Kenapa ingin ber-Cohousing?
Pernah kebayang nggak tinggal di komunitas yang semua kenal satu sama lain?
Ke kantor bisa sharing kendaraan, bisa titip belanja, bahkan bisa titip anak…
Antar rumah bisa optimal jadi ruang bermain anak yang aman, karena area mobil dibatasi …
Rumah nggak perlu besar-besar, karena ada fasilitas bersama…
Biar rumah kecil, mau arisan yang tamunya banyak bisa pake ruang serbaguna…
Mau gym nggak perlu jauh-jauh atau beli sendiri, bisa diatur pengadaan sama-sama…
Bisa jadi lebih ramah lingkungan juga, karena area terbangun optimal…
Cari info sana-sini ternyata ada loh bentuk komunitas seperti ini, istilahnya Cohousing. Kalo menurut Wikipedia, Cohousing kurang lebih seperti ini definisinya:
“A cohousing community is a kind of intentional community composed of private homes with full kitchens, supplemented by extensive common facilities. A cohousing community is planned, owned and managed by the residents, groups of people who want more interaction with their neighbours. Common facilities vary but usually include a large kitchen and dining room where residents can take turns cooking for the community. Other facilities may include a laundry, pool, child care facilities, offices, internet access, game room, TV room, tool room or a gym. Through spatial design and shared social and management activities, cohousing facilitates intergenerational interaction among neighbours, for the social and practical benefits. There are also economic and environmental benefits to sharing resources, space and items.”
Kali banyak yang bertanya-tanya: “trus apa bedanya dong Cohousing dengan perumahan model culdesac ato townhouse tanpa pagar yang menjamur saat ini”?
Secara fisik bisa jadi nggak jauh beda, karena Cohousing itu bentuk fisiknya bisa rumah single, duplex, flat, townhouse atau lainnya. Tapi kualitas hidup komunitas di dalamnya bisa jadi akan jauh beda.
Kenapa? Karena Cohousing itu melibatkan seluruh calon penghuninya dalam proses mendisain komunitas tempat tinggalnya sejak awal, bukan hanya mendisain bangunan rumah pribadi. Dengan pendekatan ini diharapkan bukan hanya bangunan rumah pribadinya saja yang sesuai dengan harapan penghuni, tapi juga komunitas yang terbentuk termasuk jenis fasilitas bersamanya. Kita juga bisa kenal lebih dekat calon tetangga dari awal, karena semua terlibat di proses disain.
Koordinator Workshop
adalah Elisa Sutanudjaja, kalau semester ganjil-genap sudah jalan tiba-tiba menjadi Dosen Arsitektur di Universitas Pelita Harapan. Sangat tertarik dengan komunitas satu ini, karena merasa kalau golongan menengah sebetulnya terabaikan dalam kebijakan perencanaan pemukiman, dan selalu menjadi sasaran sapi perah developer dan lembaga pembiayaan, serta menjadi korban tak bersuara dalam suburbanisasi.
Peserta workshop
Adalah 20 anak nekat dari Universitas Pelita Harapan, tahun 3-4.
hanya untuk mahasiswa UPH? hanya untuk jurusan arsitek? dan hanya untuk tanggal 25 Juli 2009?
menunggu kabar baik dari cohousing merenggut seluruh komunitas di indonesia.